Tag Archive | Remaja

‘Hunting’ calon menantu :-)

Dalam berbagai kesempatan anak saya sering cerita tentang teman-temannya yang sudah punya pacar. Dia memang selalu cerita apa pun yang dialaminya, baik di sekolah atau pun di luar sekolah. Sehingga saya jadi tahu siapa yang nembak siapa, si A lagi berantem sama pacarnya, si B baru saja putus, si C lagi ada masalah dengan pacarnya, dan lain sebagainya.

Secara iseng saya tanya, “Trus Ajung gimana? Belum punya pacar nih?” Walaupun saya tahu pasti dia memang belum punya dan belum pernah pacaran sampai saat ini. Saya memang tidak merekomendasi dia untuk pacaran dulu, padahal teman-temannya sejak SMP sudah banyak yang mulai pacaran. Meskipun saya sarankan untuk tidak pacaran dulu, dia sendiri memang belum berniat pacaran sampai nanti setelah kuliah.

Lucunya, walaupun dia belum pernah pacaran, dia seringkali bertindak sebagai “psikolog” untuk teman-temannya yang bermasalah dalam pacaran.  Ketika teman-temannya tahu bahwa ada seseorang yang naksir dia, sempat temannya kasih saran agar dia menerimanya. “Anggap sebagai selingan, jangan terlalu serius,” kata temannya. Tapi anak saya tidak setuju dengan pola pikir seperti itu. Dia tidak ingin bermain-main dengan perasaan. Bagaimana kalau ternyata si lelaki serius sedangkan dia hanya main-main? Dia tidak ingin menyakiti siapa pun.

Saya hanya menyarankan agar dia berteman saja dulu dan menjalin pertemanan sebanyak-banyaknya.  Memang dia punya banyak teman dekat yang hampir-hampir seperti saudara atau keluarga. Saya mengenal hampir semua teman-teman dekatnya baik laki-laki ataupun perempuan dan mereka sering ngumpul di rumah.  Saya memang berusaha mendekatkan diri dengan semua temannya.  Saya ingin agar dia mengenal banyak karakter dan mempunyai wawasan yang luas tentang berbagai karakter manusia. Ternyata diam-diam dia memang suka mengamati karakter orang dan itu mungkin salah satu hal yang membuatnya suka dengan dunia psikologi.

Ketika sambil becanda saya tanya, tentang pacar dia menjawab sambil tertawa.

“Ibu aja deh yang cariin.”

“Lho, kok Ibu?” tanya saya.

“Iya, nanti kalau ngga cocok dengan selera Ibu, gimana?” katanya.

“Nah, kalo Ibu yang cariin…kalo Ajung ngga cocok gimanaaa?” canda saya.

“Gini… Ibu ajukan calon, Ajung tinggal bilang iya kalau cocok dan bilang tidak, kalau Ajung tidak suka.”

“Hehehehe,” kami berdua tertawa serempak.

“Ya, sudah… kalo begitu Ibu akan hunting calon menantu nih dari sekarang,” kata saya setelah tawa kami mereda.

Pembicaraan di atas bisa dibilang serius, bisa dibilang becanda.

Tentu saya tidak akan memaksakan kehendak pada putri tunggal saya ini, tapi yang jelas saya menginginkan yang terbaik.  Ibu mana pun pasti mengharapkan yang terbaik dan mengharapkan kebahagiaan anaknya. Di satu sisi saya juga tahu, bahwa anak saya ini sadar dirinya diberikan beberapa “syarat khusus” dalam mencari pasangan hidupnya. Tetapi di atas segalanya saya hanya mengharap, siapa pun pasangannya nanti betul-betul orang yang baik dan benar-benar mencintainya dengan sepenuh hati.

Advertisements