Tag Archive | Tersesat

Mencari Lapangan Renon, jatuhnya ke Sanur

Saat masih duduk di bangku SMA, pelajaran olahraga seringkali dilaksanakan di Lapangan Niti Mandala, Renon. Biasanya saya diantar oleh kakak. Nah, hari itu saya jalan sendiri. Saya pikir karena sudah beberapa kali ke sana, saya pasti bisa mencari sendiri. Waktu itu rumah orangtua saya di Denpasar Timur (Daerah Kesiman). Untuk menuju ke Renon saya harus melewati jalan WR. Supratman, kemudian masuk ke jalan Nusa Indah untuk sampai ke jalan Hayam Wuruk. Setelah berada di jalan Hayam Wuruk, tujuan saya berikutnya adalah Bunderan Renon. Sampai di sini saya masih lancar-lancar saja.

Nah, ketika sampai di Bunderan Renon, saya mulai bingung. Mau belok kanan atau belok kiri. Seharusnya saya belok kanan untuk sampai ke daerah Renon. Tapi waktu itu saya malah belok kiri. Jelas saya salah total. Setelah berjalan sekian menit, saya mulai merasa aneh. Saya mulai sadar bahwa saya salah jalan. Lingkungan yang saya lewati terasa amat asing. Saya tambah bingung ketika melihat begitu banyak bule berkeliaran di jalan. Ya, ampun! Saya berada di Sanur!

Saya tidak tahu mesti bertanya pada siapa, saya tetap berkendara, pelan-pelan. Saya merasa begitu asing. Berasa berada di sekeliling alien. Jalanan sebagian besar dipenuhi bule yang berjalan kaki dengan santai. Dalam hati saya mulai panik. Bagaimana cara saya keluar dari sini? Tapi saya tetap berusaha tampak tenang walau pikiran saya kacau-balau.

Di tengah-tengah kebingungan, saya mendengar seseorang memanggil-manggil saya.

“Sak Manik… Sak Manik, jagi lunga kije niki?”

Hanya keluarga dekat atau orang yang sudah seperti keluarga yang memanggil saya dengan nama kecil itu. Berarti, ada orang yang mengenal saya di sini?

Saya menepi, kemudian menoleh ke belakang berusaha mencari sumber suara itu.

“Sak Maniiikk….”

Di belakang saya tampak seorang perempuan mengendarai sepeda gayung mendekati saya. Napasnya agak memburu. Rupanya tadi dia berusaha mengejar saya. Oh, saya mengenalnya! Dia adalah Mbok Dayu, istri dari salah satu kerabat bapak saya yang sudah seperti keluarga sendiri. Mbok Dayu ini sering berkunjung ke rumah saya dan tempat tinggalnya memang di Sanur. Tiba-tiba saya merasa lega sekali. Akhirnya, di antara para “alien” ini saya menemukan “seorang keluarga.”

“Sak Manik jagi kije niki? Ados sampai deriki?” Tampak jelas wajahnya penuh keheranan melihat pakaian yang saya kenakan. Tentu saja dia pantas heran. Dia tentu tidak mengerti kenapa saya yang berpakaian seragam olahraga berkendara tak tentu arah di daerah Sanur. Rupanya dia sudah melihat saya dari tadi. Karena saya hanya muter-muter bolak-balik di sekitar sana, dia mulai curiga. Lagipula, dia tahu persis saya tak ada kepentingan di daerah sana. Itulah yang membuatnya curiga bahwa ada yang salah dengan diri saya dan berusaha mengejar.

Saya kemudian bercerita bahwa tujuan saya adalah Lapangan Renon karena ada pelajaran olahraga pagi itu.

“Mimih Dewa Ratu! Mencari Lapangan Renon Sak Manik sampai ke Sanur??” serunya kaget.

Saya hanya meringis. “Tyang paling (saya tersesat).”

Mbok Dayu hanya bisa tertawa kasihan, kemudian memandu saya untuk mencari jalan pulang. Alhasil, hari itu saya terpaksa bolos olahraga. Jam olahraga sudah lewat dan teman-teman pasti sudah balik ke sekolah.

Sungguh pengalaman yang tak terlupakan di antara cerita-cerita tersesat lainnya.

(Sekarang ini saya tak akan tersesat lagi kalau mencari daerah Renon, sudah hapal). 😀

Advertisements