Tag Archive | Upacara Agama

Pernikahan adat Bali (1)

Di Bali pelaksanaan upacara agama tak bisa dipisahkan dengan adat, tradisi dan budaya. Begitu juga dalam upacara pernikahan.  Kali ini saya ingin menulis acara pernikahan salah satu keponakan saya yang berlangsung bulan Agustus kemarin.

Dalam pelaksanaan upacara pernikahan ini ada tiga pokok acara atau tiga acara utama yaitu: Memadik/Nyuwaka/Meminang, Widhi Widana dan terakhir Mepamit.

Tetapi sebelumnya, sebagaimana layaknya pasangan di zaman sekarang, pasangan calon pengantin ini juga melakukan sesi foto pre-wedding (tidak termasuk bagian dari ritual pernikahan), yang mengambil lokasi di Taman Ujung, Karangasem dengan pemandangannya yang indah. Bagi yang pernah berkunjung ke obyek wisata ini pasti sepakat kalau tempat ini cukup eksotis. Berikut adalah beberapa foto pre-wedding calon mempelai. 

1 (8) 1 (9) 1 (10) 1 (11) 1 (1) 1 (7)

Dalam postingan selanjutnya saya akan bercerita tentang rangkaian acara berikutnya yaitu Memadik/Nyuwaka/Meminang.

Advertisements

Megedong-gedongan

Kemarin, Minggu, tanggal 10 Agustus, saya menghadiri upacara adat “Megedong-gedongan” untuk yang ke sekian kalinya. Sang calon ibu adalah mantu-ponakan (istri dari keponakan saya). Ini adalah kehamilan pertamanya yang ditunggu-tunggunya cukup lama.

Megedong-gedongan adalah suatu ritual untuk ibu hamil, pada saat  kehamilan sudah memasuki usia kurang lebih tujuh bulan. Ritual ini dilakukan di halaman Merajan (di ajeng Betara-Betari/ Leluhur) dengan permohonan khusus agar proses kelahiran nanti berlangsung lancar tanpa hambatan dan sang ibu serta bayinya berada dalam keadaan sehat, selamat tak kurang suatu apa pun.

Salah satu sesi yang paling menarik dalam acara ini adalah ketika sang calon ayah menusuk sebuah bungkusan cukup besar dengan bambu runcing. Bungkusan itu terbuat dari daun talas dan di dalamnya berisi air plus beberapa ekor ikan dan belut. Setelah ditusuk, bila yang keluar/jatuh pertama kali adalah ikan, maka diyakini sang bayi yang terlahir nanti adalah perempuan. Bila yang keluar adalah belut, maka dipercaya jenis kelamin sang bayi  yang terlahir adalah laki-laki.

Dan, saat itu ketika sang calon ayah menusuk bungkusan itu, yang keluar pertama adalah belut. Maka, menurut kepercayaan, mestinya sang bayi yang terlahir nanti berjenis kelamin laki-laki

Oh, ya, upacara ini agak terlambat dilaksanakan (usia kehamilan sudah lebih dari tujuh bulan), sebab kami harus menunggu selesainya masa  “cuntaka”  karena kami baru selesai melaksanakan upacara pelebon/ngaben ibu mertua saya. Dua belas hari setelah upacara ngaben, barulah “cuntaka” berakhir dan upacara ini baru bisa digelar.

Dan, saat itu ketika sang calon ayah menusuk bungkusan tersebut, yang keluar pertama adalah belut. Maka, menurut kepercayaan, mestinya sang bayi yang terlahir nanti berjenis kelamin laki-laki. Selama ini dari sekian kali saya menyaksikan upacara Megedong-gedongan, jenis kelamin bayi yang terlahir selalu sesuai dengan “ramalan” saat pelaksanaan Megedong-gedongan. Apakah kali ini akan sesuai juga? Mari kita tunggu hasilnya.

Tapi di atas segala-galanya, yang kami mohonkan adalah keselamatan sang ibu dan bayinya. Apa pun jenis kelaminnya, yang penting mereka selamat dan sehat lahir-batin. 

Nyepi dan “Earth Hour” untuk Indonesia Hebat

Tak bisa dipungkiri Indonesia memang negara yang kaya dengan beraneka adat dan budaya. Walaupun harus diakui juga bahwa adat dan budaya tak terpisahkan dengan pelaksanaan upacara agama. Salah satunya adalah pelaksanaan Hari Raya Nyepi di Bali yang amat kental dengan nuansa budaya. Hari Raya Nyepi yang baru saja kita lewati adalah perayaan Tahun Baru bagi umat Hindu yaitu Tahun Baru Saka, yang tahun ini jatuh pada tanggal 31 Maret 2014. Nyepi memang merupakan hari raya bagi umat Hindu, tapi kalau dicermati makna yang terkandung dalam Nyepi amat dalam dan efeknya tidak hanya bermanfaat bagi umat Hindu. Efek terbesar adalah alam Bali berkesempatan untuk “beristirahat” dari riuh-rendahnya roda kehidupan.

Menjelang Nyepi

Rangkaian Hari Raya Nyepi diawali dengan “Melis” atau “Melasti” yaitu ritual penyucian berbagai simbol-simbol suci atau sarana persembahyangan yang terdapat di Pura yang dilakukan di laut. Kenapa laut, karena laut diyakini merupakan sumber air suci yang akan membersihkan segala kekotoran.

Ogoh-ogoh

Ogoh-ogoh

Sehari sebelum Nyepi adalah hari Pengrupukan yaitu diadakannya upacara Tawur Kesanga atau yadnya suci untuk para Bhuta Kala (segala kekuatan negatif) agar sirna dan tidak mengganggu kehidupan manusia. Rangkaian upacara ini dilaksanakan mulai dari tingkat rumah tangga, dusun, desa sampai ke tingkat provinsi dengan sarana upakara tertentu. Hari Pengrupukan ini biasanya dimeriahkan juga dengan pawai ogoh-ogoh yakni patung yang berwujud Bhuta Kala yang terbuat dari kertas dan bambu atau bahan-bahan lain yang ringan dan mudah terbakar. Ogoh-ogoh ini selanjutnya diarak mengelilingi lingkungan sekitar untuk kemudian dibakar, yang merupakan simbolis sirnanya kekuatan jahat atau kekuatan negatif.

Pelaksanaan Nyepi

Keesokan harinya, tibalah hari raya Nyepi yang jatuh pada tanggal 1 Sasih Kadasa (bulan kesepuluh). Pada saat itu umat Hindu melakukan empat Tapa Brata Penyepian (pengendalian diri) yaitu:

  1. Amati Geni (tidak menyalakan api)
  2. Amati Karya (tidak beraktivitas)
  3. Amati Lelungaan (tidak bepergian)
  4. Amati Lelanguan (tidak bersenang-senang).

Agak berbeda dengan perayaan tahun baru pada umumnya yang dirayakan dengan pesta-pesta. Umat Hindu membuka tahun barunya dengan menyepi, hening, tidak beraktivitas. Hari untuk berkontemplasi, merenung dan menyiapkan diri untuk menyambut hari-hari berikutnya yang penuh dinamika. Suka dan duka siap menunggu dalam perjalanan ke depannya.

Suasana di jalan raya saat Nyepi

Suasana di jalan raya saat Nyepi

Dengan melaksanakan empat tapa brata itu bisa kita lihat betapa hal itu sangat bermanfaat bagi alam. Selama 24 jam bumi Bali terbebas dari berbagai polusi. Bumi dan alam benar-benar bisa beristirahat setelah “melayani” penduduknya selama 364 hari non-stop dalam setahun. Jalanan lengang, tidak ada kendaraan yang turun ke jalan. Sejenak Bumi bisa bernapas lega. Udara pun bersih. Ibarat tubuh manusia, bumi dan alam berkesempatan melakukan pembersihan diri. Masyarakatnya beristirahat di rumah masing-masing. Ibarat komputer, sang komputer di-shut down sejenak setelah menyala selama 24 jam penuh. Secara ekonomi, pelaksanaan Nyepi juga memberi kontribusi karena terjadi penghematan BBM sampai sekitar 50% atau terjadi penghematan devisa negara sekitar Rp. 52 miliar  (dari berbagai sumber). Tentunya ini cukup hebat, bukan? Jadi, bisa dikatakan, pelaksanaan Nyepi di Bali sangat mendukung gerakan hemat energi, yang artinya Bali sebagai bagian dari negara Indonesia sangat mendukung agar Indonesia menjadi negara yang Hebat dalam ikut serta berpartisipasi mengatasi Global Warming.

Hubungannya dengan “Earth Hour

Terlepas dari konteks keagamaan, kita bisa merenungi manfaat Nyepi, kita bisa membayangkan, bagaimana jadinya alam semesta ini kalau setiap negara mampu melakukan “Nyepi” sehari dalam setahun. Alam semesta akan berterima kasih karena mendapat kesempatan untuk “beristirahat sejenak.” Atmosfir udara akan bersih dan sedikit banyak membantu meringankan efek Global Warming. Tetapi tampaknya hal itu tidak bisa terwujud saat ini, walaupun suatu saat, entah kapan, hal itu bisa saja terjadi. Saat ini dunia baru bisa menerapkan “Earth Hour” atau Jam Bumi, yaitu pemadaman listrik selama satu jam yang dilakukan setahun sekali.

Program Earth Hour pertama kali dicanangkan oleh Wordl Wide Fund for Nature (WWF)  yang pelaksanaannya dilakukan setiap Sabtu terakhir di bulan Maret. Awalnya program Earth Hour hanya dilaksanakan di Sydney, Australia. Tetapi sejak tahun 2008 Earth Hour dilakukan secara global karena beberapa negara di dunia ikut berpartisipasi termasuk Indonesia untuk melaksanakan program ini. Ini berhubungan dengan isu global warming karena dengan mengurangi pemakaian energi listrik selama satu jam dalam setahun, itu cukup memberi arti bagi bumi, sekecil apa pun. Saat Hari Raya Nyepi, umat Hindu (khususnya di Bali) bahkan tidak menyalakan lampu selama 24 jam. Bali gelap gulita selama semalam (kecuali tempat-tempat pelayanan vital seperti rumah sakit). Bukankah itu juga cukup berarti? Bali hebat! Indonesia Hebat! Itu mungkin yang dikatakan oleh orang luar karena Bali mampu melaksanakan Nyepi selama sehari semalam dan memberikan efek yang positif untuk alam dan lingkungan.

Karena Bali merupakan bagian dari negara Indonesia, tentu Indonesia juga hebat. Ada yang lebih indah yaitu, toleransi antar umat beragama di Bali sangat tinggi. Terbukti dari umat non-Hindu yang berada di Bali mendukung pelaksanaan Nyepi dengan jalan ikut berpartisipasi untuk tidak menyalakan lampu, tidak bepergian dan tidak menimbulkan suara-suara yang menganggu hikmatnya pelaksanaan Nyepi. Sungguh, Bali hebat! Sungguh, Indonesia Hebat!

Tirta Yatra Dalam Rangkaian Upacara Rsi Ghana (3)

16092013Senin, 16 September 2013, tujuan Tirta Yatra kami adalah ke Pura Luhur Batukaru dan Pura Pucaksari yang terletak di lereng Gunung Batukartu, Kabupaten Tabanan. Kedua pura ini terletak di sisi lereng yang berseberangan. Pertama kami menuju Pura Pucaksari.  Medan tidak terlalu sulit, hanya jalannya yang agak menanjak. Yah, namanya juga lereng gunung tentu saja menanjak.

Ketika sampai di areal pura, kami disambut oleh Pemangku (suami istri) yang ramah. Kami dipersilakan menunggu karena saat itu kebetulan ada serombongan orang sedang melakukan ritual juga. Setelah mereka selesai, kami pun memulai persembahyangan dengan dipimpin oleh Pemangku. Seperti di pura-pura sebelumnya, permohonan utama kami adalah mohon restu sehubungan dengan upacara Pecaruan Rsi Ghana yang akan kami lakukan.

Setelah selesai, kami ngobrol-ngobrol sejenak dengan dua Pemangku tersebut. Kami bercerita ngalor ngidul dengan akrabnya seolah-olah sudah kenal lama.  Kami merasa beruntung karena selalu ketemu Pemangku yang ramah, baik dan bersikap melayani pemedek. Hal itu membuat kami sangat respek pada mereka.

16092013(004)_2Dari Pura Pucaksari, kami meluncur ke Pura Batukaru yang terletak di lereng yang berseberangan dengan Pura Pucaksari.  Di pura ini kami melihat ada banyak turis mancanegara yang berkunjung. Tentu saja pada areal batas yang diizinkan dan memang sudah ada batas yang jelas areal mana yang boleh dimasuki oleh turis. Cuaca cukup bersahabat walaupun agak berkabut. Udaranya dingin.

Di pura ini kami tidak bertemu dengan Pemangku sehingga ritual kami lakukan sendiri. Setelah muspa dan nunas tirtha, kami mepamit dan langsung pulang. Kabut mulai menebal sore itu. Makin sore kabut akan makin tebal.

Tirta Yatra Dalam Rangkaian Upacara Rsi Ghana (2)

15092013(002)Perjalanan hari ini merupakan kelanjutan dari perjalanan pertama dan tujuan kami adalah Pura Luhur Uluwatu dan Pura Dalem Segara. Pura Uluwatu dipercaya oleh umat Hindu sebagai penyangga salah satu mata angin dan terletak di ujung barat daya Pulau Bali.  Pura ini tampak begitu spektakuler karena berdiri di atas sebuah tebing setinggi kurang lebih 97 meter di atas permukaan laut. Di bawahnya terhampar Pantai Pecatu yang terkenal sebagai tempat berselancar.

Saat terakhir ‘tangkil’ ke pura ini, saya agak was-was karena ada banyak kera yang nakal, yang suka mengambil barang apa saja yang kita bawa yang bisa diraihnya. Waktu itu saya melihat seorang ibu yang ditarik sanggulnya, kemudian ada juga orang lain yang dijambret kaca matanya. Karena pengalaman itu, saat saya ke sana lagi saya begitu ekstra hati-hati. Dengan membawa Banten Pejati, saya berjalan dengan kewaspadaan tinggi. Mata saya awas ke segala arah mengantisipasi pergerakan kera, jangan sampai mendekati saya.  Ada banyak wisatawan yang berkunjung saat itu, tentu sampai areal yang diperbolehkan untuk itu. Tidak sampai masuk ke tempat persembahyangan.

Ternyata hari itu semua kera tampak tenang, tidak ada yang berulah. Mereka hanya duduk di pinggir jalan, tidak ada yang berusaha untuk menganggu pengunjung. Ada yang sedang makan, ada yang hanya duduk manis.

Sampai di dalam pura, kami disambut oleh Pemangku yang sangat ramah. Beliau mempersilakan kami memgambil tempat. Saya pun mulai menata Pejati yang kemudian dihaturkan oleh Pemangku. Permohonan kami tetap sama yaitu mohon keselamatan dan matur uning  serta nunas tirtha untuk keperluan upacara Rsi Ghana. Setelah selesai, kami langsung pamit. Saya sangat terkesan dengan keramahan Pemangku di sana dan sikapnya yang melayani pemedek.

Selesai di Pura Uluwatu, kami langsung meluncur ke Sanur, menuju Pura Dalem Segara Pengembak yang terletak di pinggir pantai. Di sini kami tidak menemui Pemangku. Seorang pemedek mengatakan Pemangku baru saja pulang karena agak tidak enak badan. Karena tidak ada Pemangku kami melakukan ritual sendiri, dengan permohonan yang sama yaitu mohon keselamatan lahir-batin dan dimudahkan segala jalan kami. Setelah selesai, kami langsung pulang mempersiapkan segala sesuatunya untuk perjalanan esok harinya.

Pukul setengah empat sore kami sampai di rumah. Besok, astungkara, kami akan menuju Pura Pucaksari dan Pura Luhur Batukaru yang terletak di Kabupaten Tabanan.

(Bersambung)

Tirta Yatra Dalam Rangkaian Upacara Rsi Ghana (1)

Hari ini, Sabtu, 14 Sept 2013,  rangkaian upacara Rsi Ghana dan Odalan di rumah saya yang di Denpasar dimulai. Puncak acaranya sendiri pada tanggal 18 Sept 2013, yaitu Buda Kliwon Gumbreg yang bertepatan dengan tegak Odalan di Merajan.

Tujuan pertama hari ini adalah ke Pura Bukit, yang terletak di Desa Bukit Karangasem. Yang melingga di pura ini adalah Bhatara Alit Sakti yang merupakan keturunan dari Kerajaan Karangasem  dan Ida Bhatara Lingsir Gunung Agung (sejarah tentang Pura Bukit ini akan saya ceritakan dalam tulisan tersendiri nanti).

Pura BukitKami berangkat dari Denpasar kira-kira pukul sembilan pagi. Singgah ke Tohpati untuk menjemput kakak yang juga ikut  ke Pura Bukit, perjalanan agak terlambat karena kakak ini kesulitan meninggalkan cucunya yang nangis terus. Akhirnya pukul satu lewat kami sampai di Pura Bukit. Ini agak terlambat dari jadwal semula. Kami segera memulai melakukan ritual ‘matur uning’ dan nunas ‘tirtha’ (air suci) untuk keperluan upacara nanti. Sarana yang kami pergunakan adalah Pejati. Dilanjutkan dengan ‘muspa’.

Selesai ritual di Pura Bukit, kami langsung meluncur ke rumah di Karangasem, yaitu  Puri Agung Karangasem (Puri Kanginan), untuk ‘tangkil’ di Merajan Agung dengan tujuan sama yaitu ‘matur uning” dan nunas ‘tirtha’ sehubungan karya nanti.  Kami mohon agar para leluhur merestui pekerjaan yang akan kami lakukan dan memberi segala kemudahan.

Setelah selesai di merajan, setelah ngobrol sejenak dengan para semeton, kami langsung menuju Pura Penataran Gunung Agung (Pura Dasar Gunung Agung) yang terletak di Desa Nangka, Karangasem, sehingga sering juga disebut Pura Nangka. Pura ini terletak di kaki Gunung Agung dan ada keterkaitan erat dengan Pura Bukit (yang akan kami ceritakan nanti).  Medannya tidak terlalu sulit, tetapi jalannya sempit dan di kiri-kanan curam. Kami juga melewati beberapa areal Galian-C (tambang pasir dan batu) yang merupakan sisa-sisa material saat Gunung Agung meletus lima puluh tahun silam. Kalau yang tidak mahir nyetir mobil, tidak disarankan mengemudikan mobil sendiri ke daerah ini. Di samping jalanan yang sempit, kami juga  sering berpapasan dengan truk-truk pengangkut pasir.

Jalan makin menanjak, kabut mulai turun dan jarak pandang makin dekat. Benar-benar membutuhkan kemampuan mengemudi yang tinggi. Saya ingat, duluuu  banget waktu mendaki Gunung Agung, jalan inilah  yang dilalui untuk mencapai kaki Gunung Agung sebelum mencapai kaki gunung yang sebenarnya dan mulai mendaki.

Pura Dasar G. AgungKurang lebih jam setengah lima sore, kami sampai di tempat. Di samping kabut yang makin pekat, kami juga disambut oleh gerimis. Dingin? Tentu saja, sudah kabut tebal, gerimis pula. Pura ini sedang dalam proses perbaikan dan belum selesai pengerjaannya. Tembok penyengker belum ada, rupa ‘bencingah’ juga belum kelihatan. Tanpa membuang waktu, kami langsung memulai ritual karena kami berpikir kalau hari makin sore kabut akan makin tebal dan akan menyulitkan kami untuk mencari jalan pulang. Di bawah gerimis, kami menggelar Pejati dan menghaturkan canang, dilanjutkan dengan ‘muspa’ (sembahyang dengan sarana bunga wangi dan dupa). Permohonan kami juga sama yaitu ‘nunas tirtha’ dan memohon kelancaran dalam melakukan upacara Rsi Gana & Odalan nantinya.

Setelah selesai melakukan ritual persembahyangan, gerimis perlahan berhenti. Cuaca pun sedikit terang, kabut sedikit menipis seolah-olah memberikan jalan pada kami agar bisa pulang tanpa kesulitan. Dalam hati saya amat bersyukur dan matur suksma yang begitu besar pada Ida Bhatara yang melingga di sana.

Kami langsung pulang ke Denpasar tanpa hambatan dan sampai di rumah kira-kira pukul setengah sembilan malam. Esoknya (Minggu, 15 Sept 2013), kami berencana untuk tangkil ke Pura Uluwatu dan Pura Dalem Segara. Semoga dimudahkan segalanya. Astungkara.

(Bersambung)