Kisah Si Anak Burung

IMG_0048

Lihat, dia begitu ringkih….

Beberapa hari yang lalu saya menemukan seekor anak burung di halaman belakang, di bawah pohon kenanga. Bulu-bulunya belum tumbuh semua. Sayapnya belum bisa mengembang sempurna. Saya perkirakan dia terjatuh saat induknya mengajari dia terbang.  Saya segera memungutnya sebelum Roki dan Bingo ngeh. Begitu saya ambil, si burung kecil langsung  cuit-cuit ribut dan suara itu dengan cepat menarik perhatian kedua anjing saya. Roki dan Bingo langsung menemukan sumber suara itu dan mengejar saya, melompat-lompat mengelilingi saya. Saya sempat panik dan bingung mau diapakan anak burung ini.

IMG_0047

Bulunya belum mekar semua….

Bersamaan dengan itu datang dua burung dewasa yang terbang rendah sambil bercuit-cuit juga. Saya langsung ngerti mereka pasti induknya yang kebingungan mencari anaknya. Saya lebih bingung lagi, tidak tahu mesti taruh di mana  burung kecil ini. Kalau saya taruh di dahan begitu saja, saya khawatir dia terjatuh dan pasti akan dimangsa oleh anjing saya. Sekian detik saya berpikir apa yang harus dilakukan, sementara Roki dan Bingo terus saja ribut menggonggong karena mereka tahu ada burung kecil di genggaman saya.  Waktu itu saya sendirian di rumah. Seandainya ada orang lain, saya bisa minta bantuan untuk mengurus Roki dan Bingo. Akhirnya, saya bawa anak burung itu ke kamar. Saya taruh di atas meja, saya tutup semua jendela kemudian saya keluar untuk mengikat Roki.  Kalau Roki sudah diikat, Bingo pasti akan menungguinya dan saya bisa bebas dari kejarannya. Dengan demikian saya bisa bebas mengurus anak burung ini dan berusaha mencari sarangnya (kalau ada).

IMG_0056

Roki terpaksa diikat sebentar dan Bingo menungguinya dengan sabar

Setelah mengikat Roki, saya kembali ke kamar mengambil si anak burung.  Kedua burung dewasa itu masih ribut cuit-cuit, beterbangan di antara pohon jepun dan kenanga.  Saya bingung bagaimana caranya menyampaikan pesan kepada kedua induk itu bahwa anaknya ada pada saya. Saya sebenarnya takut berada di ketinggian, tapi kali ini terpaksa naik tangga untuk memeriksa apakah di atas pohon jepun ada sarangnya. Ternyata tidak ada. Bingung lagi.  Saya bolak-balik antara pohon jepun dan kenanga, mereka-reka seandainya saya taruh burung kecil ini di salah satu dahannya, apakah dia bisa diam. Saya sempat meletakkannya di dahan kenanga, tapi posisinya mencurigakan. Dia bisa jatuh lagi.

????

Pohon jepun dan keranjang plastik

Setelah sekian lama berpikir, akhirnya saya putuskan untuk meletakkannya di atas dahan jepun yang batangnya agak lebar. Tapi karena tak yakin, saya berpikir untuk meletakkan sesuatu di bawahnya, untuk berjaga-jaga seandainya burung itu jatuh, maka dia tetap aman.  Saya masuk ke gudang belakang mencari sesuatu untuk pengaman. Ketemu sebuah keranjang plastik. Saya naik tangga lagi untuk meletakkan keranjang tersebut di atas salah satu dahan. Setelah itu saya letakkan anak burung tersebut di dahan yang sedikit lebih tinggi dari posisi keranjang. Berhasil. Kakinya mencengkeram kuat dahan tersebut. Saya turun dan memperhatikannya dari bawah.  Sekian menit berlalu, akhirnya kedua burung dewasa itu berhasil menemukan anaknya.  Saat itu saya takjub sekali. Entah bagaimana caranya, burung dewasa itu berhasil membimbing si burung kecil naik ke dahan yang lebih tinggi perlahan-lahan. Makin tinggi dan makin tinggi. Sebenarnya saya ingin mengabadikan momen tersebut, tapi saya khawatir kalau saya mendekati mereka, induk burung itu akan terbang menjauh. Kasihan anaknya.

????

Pohon kenanga

Setelah yakin mereka baik-baik saja, saya tinggal pergi menyiapkan canang (saat itu saya mau ‘mebanten’). Kira-kira seperempat jam kemudian, saya menengoknya lagi.  Mereka masih di sana, posisi si anak burung sudah makin tinggi.  Saya tinggal pergi lagi. Sepuluh menit kemudian saya menengoknya lagi. Dan… mereka sudah hilang! Rupanya si induk berhasil mengajak anaknya terbang. Syukurlah.  Setidaknya, ‘pengorbanan’ saya naik tangga tidak sia-sia. 😀 Tapi saya masih takjub sendiri. Masih terbengong-bengong membayangkan induk burung itu membimbing anaknya selangkah demi selangkah hingga akhirnya bisa terbang. Alam ini sungguh ajaib! Sampai sekarang burung-burung tersebut masih sering main-main di pohon jepun dan kenanga ini. Saya tak tahu mereka jenis burung apa. Yang jelas bukan burung tekukur. Kalau tekukur saya hapal betul karena ada banyak tekukur yang juga sering main ke sini. Burung tadi ukurannya lebih kecil dari tekukur dan lebih besar dari burung pipit. Apa ini mungkin yang disebut burung “becica”? Tak penting apa jenisnya, yang penting mereka sudah selamat.

Legaaaa!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s