Tag Archive | Penari

Penari

Saya sering mendapat pertanyaan apakah semua perempuan Bali bisa menari? Pada umumnya memang iya dan perempuan Bali sudah mulai latihan menari pada usia kanak-kanak walaupun hanya sebagian kecil yang akhirnya menjadi penari profesional.

Seperti halnya pengalaman saya sendiri. Saya ingat sekali, pertama kali latihan menari saat saya masih TK. Waktu itu ibu saya memanggil guru tari ke rumah yang kebetulan adalah sahabatnya dari Puri Kerambitan, Tabanan. Saya tidak ingat nama persisnya, yang jelas kami memanggilnya dengan sebutan Ibu Sagung. Waktu itu saya latihan bersama beberapa saudara sepupu.

Setelah pindah ke Denpasar (kami pindah ke Denpasar ketika saya kelas 3 SD), saya dan kakak perempuan latihan menari di Sanggar Warini. Setelah SMP saya dan kakak latihan di sanggar Pak Jayus (kalau tidak salah nama sanggarnya “Kumara” yang waktu itu terletak di Jalan Kenanga, Denpasar).

Setelah masuk SMA saya tidak masuk sanggar lagi, hanya ikut ekstra tari di sekolah. Saat duduk di SMA jugalah saya pernah masuk TV (cieeh, untung aja TV-nya ngga pecah). 😉 Waktu itu saya dan teman-teman menari janger. Setelah tamat SMA, “karir” menari saya pun tamat, karena merasa sudah “tua.” Ini karena saya bukan penari profesional. Saya menari waktu itu lebih ke hobi atau kebutuhan jiwa dan olah tubuh. Kalau pun pentas hanya sekitar pentas di panggung di kampung. 😀 Atau menari di Pura (tempat suci umat Hindu) kalau sedang ada perayaan Odalan. Tari-tarian untuk perayaan suci seperti ini adalah Tari Pendet atau Tari Rejang.

Tetapi yang memang berniat dan berbakat menjadi penari profesional, mereka tak akan pernah berhenti dan tak bisa dihalangi oleh usia. Ada banyak penari yang bahkan di usia lanjut pun masih menari karena itu sudah merupakan kebutuhan jiwanya.

deto tari baris

Deto sedang membawakan Tari Baris saat test kenaikan tingkat

Bukan hanya para perempuannya yang suka menari, lelaki Bali juga banyak yang jadi penari profesional walaupun tak sebanyak perempuannya. Salah satu keponakan saya (anak kedua dari adik laki-laki saya yang nomor empat) tampaknya akan jadi calon penari profesional. Dari SD dia sudah minta ikut sanggar tari. Ini murni dari keinginannya sendiri, bukan keinginan apalagi paksaan orangtuanya. Pada awalnya, orangtuanya sendiri agak kaget dengan permintaan anaknya, ini karena si anak termasuk anak badung dan tak pernah diduganya malah tertarik dengan dunia tari. Tapi karena dilihatnya si anak begitu serius dengan keinginannya, maka ortunya pun mencari sebuah sanggar tari yang benar-benar profesional. Di sanggar ini ada semacam jenjang/kelas, dan setiap tiga bulan sekali diadakan tes kenaikan tingkat (dengan pentas langsung) untuk melihat apakah si anak sudah pantas naik kelas.

 

Sang calon penari profesional sedang santai :D

Sang calon penari profesional sedang santai 😀

Rupanya darah penari anak ini mengalir deras dari kakek dan nenek saya yang dua-duanya merupakan pragina Arja (kesenian tradional Bali). Kakek waktu itu berperan sebagai Kartala (salah satu tokoh di Arja) dan nenek (yang konon waktu mudanya cantik jelita) berperan sebagai Galuh (atau tokoh tuan putri). Selain keponakan saya ini, sebelumnya tidak ada keturunan kakek yang menjadi penari profesional. Semua sebatas penari amatir yang hanya menari untuk acara-acara adat sebagai pelengkap upacara atau ritual.

Jadi, apakah semua perempuan Bali bisa menari? Jawabannya: sebagian besar, tapi tidak semua berakhir sebagai penari profesional.

deto nari

Deto in action.

Advertisements