Tag Archive | Upacara Adat

Pernikahan adat Bali (1)

Di Bali pelaksanaan upacara agama tak bisa dipisahkan dengan adat, tradisi dan budaya. Begitu juga dalam upacara pernikahan.  Kali ini saya ingin menulis acara pernikahan salah satu keponakan saya yang berlangsung bulan Agustus kemarin.

Dalam pelaksanaan upacara pernikahan ini ada tiga pokok acara atau tiga acara utama yaitu: Memadik/Nyuwaka/Meminang, Widhi Widana dan terakhir Mepamit.

Tetapi sebelumnya, sebagaimana layaknya pasangan di zaman sekarang, pasangan calon pengantin ini juga melakukan sesi foto pre-wedding (tidak termasuk bagian dari ritual pernikahan), yang mengambil lokasi di Taman Ujung, Karangasem dengan pemandangannya yang indah. Bagi yang pernah berkunjung ke obyek wisata ini pasti sepakat kalau tempat ini cukup eksotis. Berikut adalah beberapa foto pre-wedding calon mempelai. 

1 (8) 1 (9) 1 (10) 1 (11) 1 (1) 1 (7)

Dalam postingan selanjutnya saya akan bercerita tentang rangkaian acara berikutnya yaitu Memadik/Nyuwaka/Meminang.

Advertisements

Bukan air mata buaya

Roaming! Mungkin ini istilah yang cukup tepat untuk menggambarkan pikiran saya ketika baru balik ke Denpasar setelah cukup lama berada di kampung. Pagi-pagi ketika baru bangun saya sempat blank dan bertanya-tanya saya ada di mana.

Kalau di kampung, saat baru bangun dan membuka mata, pandangan langsung tertuju ke jendela karena kebetulan tempat tidurnya menghadap jendela. Sedangkan di Denpasar, ketika baru bangun pandangan langsung jatuh ke lemari pakaian. Hal itu sempat membuat saya terdiam sejenak dan menyadar-nyadarkan diri bahwa saya ada di rumah di Denpasar.

Ada-ada saja. 😀

Saya berada di kampung cukup lama dalam rangka persiapan upacara ngaben sampai selesai pelaksanaannya. Ada banyak rangkaian ritual sebelum acara puncak pelebon atau ngaben. Dalam rangkaian ritual tersebut, ada peristiwa lucu terjadi pada saya, tepatnya, agak “memalukan.”

Ceritanya, hari itu ada ritual “Narpana” yang bertepatan dengan hari Tilem (bulan mati). Saat itu ada tiga orang yang “ngaturang” kidung/kekawin (macapat?) mengiringi ritual. Kebetulan saya yang mendampingi mereka (satu bapak dan dua orang ibu-ibu). Sesi kidung pertama dibawakan oleh salah satu ibu dan uraiannya (penjelasan isi kidung) dibawakan oleh si bapak. Ibu yang satu lagi duduk berdampingan dengan saya menunggu gilirannya.

Suara sang pelantun kidung itu benar-benar merdu dan bikin merinding. Saya mendengarkan dan menikmati kidung mereka plus uraiannya yang disampaikan oleh si bapak dalam Bahasa Bali halus.
Tapi sayangnya, walaupun saya menikmati alunan kidung tersebut, kantuk tetap menyerang. Memang selama di kampung jam tidur saya amat pendek, tak lebih dari dari 3-4 jam sehari. Saya berusaha setengah mati menahan kantuk dan berusaha jangan sampai menguap. Saya berhasil menahan diri untuk tidak menguap tetapi akibatnya air mata saya bercucuran karena menahan kantuk yang amat sangat.

Tentu saya ingin segera menghapus air mata yang berurai sebelum terlihat oleh para pelantun kidung terutama oleh ibu yang duduk di samping saya. Karena tidak membawa tisu, saya meraih ujung selendang yang saya pakai untuk menghapus air mata saya.

Sialnya, tepat saat saya mengangkat ujung selendang dan menghapus air mata, sang ibu di dekat saya menoleh. Saya tak bisa membatalkan gerakan saya. Si ibu menatap saya dengan heran kemudian tersenyum. Saya tahu dia melihat mata saya yang memerah dengan air mata yang bercucuran. Duh, apa yang harus saya katakan? Malu nian, sungguh!

Tiba-tiba ibu itu berkata sambil tetap tersenyum.

“Cerita kidungnya memang sedih, pasti terbawa perasaan, nggih? Tyang juga sering nangis kalau mendengar kekawin yang isinya mengharukan.”
Oh! Dia mengira saya benar-benar menangis karena isi kidungitu. Memang is kidung yang dilantunkan mereka bercerita tentang kesedihan Dewi Uttari ketika mendengar Abimanyu gugur di medan Kurusetra karena dikeroyok oleh pasukan Kurawa.

Saya bersyukur sangat mengenal kisah ini sehingga saya bisa “nyambung” dengan pembicaraan si ibu. Saya pun terlibat diskusi kecil dengan ibu itu membahas isi kidung. Saya terpaksa mengakui bahwa saya memang “nangis” karena kisah itu. Sebab sungguh tidak mungkin kalau saya bilang bahwa air mata ini keluar karena ngantuk yang amat sangat. Entahlah, apakah si ibu berkata jujur atau hanya kasihan agar saya tak salah tingkah?

Tapi yang jelas, itu bukan air mata buaya. 😉

 

Tirta Yatra Dalam Rangkaian Upacara Rsi Ghana (3)

16092013Senin, 16 September 2013, tujuan Tirta Yatra kami adalah ke Pura Luhur Batukaru dan Pura Pucaksari yang terletak di lereng Gunung Batukartu, Kabupaten Tabanan. Kedua pura ini terletak di sisi lereng yang berseberangan. Pertama kami menuju Pura Pucaksari.  Medan tidak terlalu sulit, hanya jalannya yang agak menanjak. Yah, namanya juga lereng gunung tentu saja menanjak.

Ketika sampai di areal pura, kami disambut oleh Pemangku (suami istri) yang ramah. Kami dipersilakan menunggu karena saat itu kebetulan ada serombongan orang sedang melakukan ritual juga. Setelah mereka selesai, kami pun memulai persembahyangan dengan dipimpin oleh Pemangku. Seperti di pura-pura sebelumnya, permohonan utama kami adalah mohon restu sehubungan dengan upacara Pecaruan Rsi Ghana yang akan kami lakukan.

Setelah selesai, kami ngobrol-ngobrol sejenak dengan dua Pemangku tersebut. Kami bercerita ngalor ngidul dengan akrabnya seolah-olah sudah kenal lama.  Kami merasa beruntung karena selalu ketemu Pemangku yang ramah, baik dan bersikap melayani pemedek. Hal itu membuat kami sangat respek pada mereka.

16092013(004)_2Dari Pura Pucaksari, kami meluncur ke Pura Batukaru yang terletak di lereng yang berseberangan dengan Pura Pucaksari.  Di pura ini kami melihat ada banyak turis mancanegara yang berkunjung. Tentu saja pada areal batas yang diizinkan dan memang sudah ada batas yang jelas areal mana yang boleh dimasuki oleh turis. Cuaca cukup bersahabat walaupun agak berkabut. Udaranya dingin.

Di pura ini kami tidak bertemu dengan Pemangku sehingga ritual kami lakukan sendiri. Setelah muspa dan nunas tirtha, kami mepamit dan langsung pulang. Kabut mulai menebal sore itu. Makin sore kabut akan makin tebal.

Tirta Yatra Dalam Rangkaian Upacara Rsi Ghana (2)

15092013(002)Perjalanan hari ini merupakan kelanjutan dari perjalanan pertama dan tujuan kami adalah Pura Luhur Uluwatu dan Pura Dalem Segara. Pura Uluwatu dipercaya oleh umat Hindu sebagai penyangga salah satu mata angin dan terletak di ujung barat daya Pulau Bali.  Pura ini tampak begitu spektakuler karena berdiri di atas sebuah tebing setinggi kurang lebih 97 meter di atas permukaan laut. Di bawahnya terhampar Pantai Pecatu yang terkenal sebagai tempat berselancar.

Saat terakhir ‘tangkil’ ke pura ini, saya agak was-was karena ada banyak kera yang nakal, yang suka mengambil barang apa saja yang kita bawa yang bisa diraihnya. Waktu itu saya melihat seorang ibu yang ditarik sanggulnya, kemudian ada juga orang lain yang dijambret kaca matanya. Karena pengalaman itu, saat saya ke sana lagi saya begitu ekstra hati-hati. Dengan membawa Banten Pejati, saya berjalan dengan kewaspadaan tinggi. Mata saya awas ke segala arah mengantisipasi pergerakan kera, jangan sampai mendekati saya.  Ada banyak wisatawan yang berkunjung saat itu, tentu sampai areal yang diperbolehkan untuk itu. Tidak sampai masuk ke tempat persembahyangan.

Ternyata hari itu semua kera tampak tenang, tidak ada yang berulah. Mereka hanya duduk di pinggir jalan, tidak ada yang berusaha untuk menganggu pengunjung. Ada yang sedang makan, ada yang hanya duduk manis.

Sampai di dalam pura, kami disambut oleh Pemangku yang sangat ramah. Beliau mempersilakan kami memgambil tempat. Saya pun mulai menata Pejati yang kemudian dihaturkan oleh Pemangku. Permohonan kami tetap sama yaitu mohon keselamatan dan matur uning  serta nunas tirtha untuk keperluan upacara Rsi Ghana. Setelah selesai, kami langsung pamit. Saya sangat terkesan dengan keramahan Pemangku di sana dan sikapnya yang melayani pemedek.

Selesai di Pura Uluwatu, kami langsung meluncur ke Sanur, menuju Pura Dalem Segara Pengembak yang terletak di pinggir pantai. Di sini kami tidak menemui Pemangku. Seorang pemedek mengatakan Pemangku baru saja pulang karena agak tidak enak badan. Karena tidak ada Pemangku kami melakukan ritual sendiri, dengan permohonan yang sama yaitu mohon keselamatan lahir-batin dan dimudahkan segala jalan kami. Setelah selesai, kami langsung pulang mempersiapkan segala sesuatunya untuk perjalanan esok harinya.

Pukul setengah empat sore kami sampai di rumah. Besok, astungkara, kami akan menuju Pura Pucaksari dan Pura Luhur Batukaru yang terletak di Kabupaten Tabanan.

(Bersambung)

Tirta Yatra Dalam Rangkaian Upacara Rsi Ghana (1)

Hari ini, Sabtu, 14 Sept 2013,  rangkaian upacara Rsi Ghana dan Odalan di rumah saya yang di Denpasar dimulai. Puncak acaranya sendiri pada tanggal 18 Sept 2013, yaitu Buda Kliwon Gumbreg yang bertepatan dengan tegak Odalan di Merajan.

Tujuan pertama hari ini adalah ke Pura Bukit, yang terletak di Desa Bukit Karangasem. Yang melingga di pura ini adalah Bhatara Alit Sakti yang merupakan keturunan dari Kerajaan Karangasem  dan Ida Bhatara Lingsir Gunung Agung (sejarah tentang Pura Bukit ini akan saya ceritakan dalam tulisan tersendiri nanti).

Pura BukitKami berangkat dari Denpasar kira-kira pukul sembilan pagi. Singgah ke Tohpati untuk menjemput kakak yang juga ikut  ke Pura Bukit, perjalanan agak terlambat karena kakak ini kesulitan meninggalkan cucunya yang nangis terus. Akhirnya pukul satu lewat kami sampai di Pura Bukit. Ini agak terlambat dari jadwal semula. Kami segera memulai melakukan ritual ‘matur uning’ dan nunas ‘tirtha’ (air suci) untuk keperluan upacara nanti. Sarana yang kami pergunakan adalah Pejati. Dilanjutkan dengan ‘muspa’.

Selesai ritual di Pura Bukit, kami langsung meluncur ke rumah di Karangasem, yaitu  Puri Agung Karangasem (Puri Kanginan), untuk ‘tangkil’ di Merajan Agung dengan tujuan sama yaitu ‘matur uning” dan nunas ‘tirtha’ sehubungan karya nanti.  Kami mohon agar para leluhur merestui pekerjaan yang akan kami lakukan dan memberi segala kemudahan.

Setelah selesai di merajan, setelah ngobrol sejenak dengan para semeton, kami langsung menuju Pura Penataran Gunung Agung (Pura Dasar Gunung Agung) yang terletak di Desa Nangka, Karangasem, sehingga sering juga disebut Pura Nangka. Pura ini terletak di kaki Gunung Agung dan ada keterkaitan erat dengan Pura Bukit (yang akan kami ceritakan nanti).  Medannya tidak terlalu sulit, tetapi jalannya sempit dan di kiri-kanan curam. Kami juga melewati beberapa areal Galian-C (tambang pasir dan batu) yang merupakan sisa-sisa material saat Gunung Agung meletus lima puluh tahun silam. Kalau yang tidak mahir nyetir mobil, tidak disarankan mengemudikan mobil sendiri ke daerah ini. Di samping jalanan yang sempit, kami juga  sering berpapasan dengan truk-truk pengangkut pasir.

Jalan makin menanjak, kabut mulai turun dan jarak pandang makin dekat. Benar-benar membutuhkan kemampuan mengemudi yang tinggi. Saya ingat, duluuu  banget waktu mendaki Gunung Agung, jalan inilah  yang dilalui untuk mencapai kaki Gunung Agung sebelum mencapai kaki gunung yang sebenarnya dan mulai mendaki.

Pura Dasar G. AgungKurang lebih jam setengah lima sore, kami sampai di tempat. Di samping kabut yang makin pekat, kami juga disambut oleh gerimis. Dingin? Tentu saja, sudah kabut tebal, gerimis pula. Pura ini sedang dalam proses perbaikan dan belum selesai pengerjaannya. Tembok penyengker belum ada, rupa ‘bencingah’ juga belum kelihatan. Tanpa membuang waktu, kami langsung memulai ritual karena kami berpikir kalau hari makin sore kabut akan makin tebal dan akan menyulitkan kami untuk mencari jalan pulang. Di bawah gerimis, kami menggelar Pejati dan menghaturkan canang, dilanjutkan dengan ‘muspa’ (sembahyang dengan sarana bunga wangi dan dupa). Permohonan kami juga sama yaitu ‘nunas tirtha’ dan memohon kelancaran dalam melakukan upacara Rsi Gana & Odalan nantinya.

Setelah selesai melakukan ritual persembahyangan, gerimis perlahan berhenti. Cuaca pun sedikit terang, kabut sedikit menipis seolah-olah memberikan jalan pada kami agar bisa pulang tanpa kesulitan. Dalam hati saya amat bersyukur dan matur suksma yang begitu besar pada Ida Bhatara yang melingga di sana.

Kami langsung pulang ke Denpasar tanpa hambatan dan sampai di rumah kira-kira pukul setengah sembilan malam. Esoknya (Minggu, 15 Sept 2013), kami berencana untuk tangkil ke Pura Uluwatu dan Pura Dalem Segara. Semoga dimudahkan segalanya. Astungkara.

(Bersambung)

“Megedong-gedongan”

Dua hari yang lalu, tepatnya tanggal 17 Agustus 2013, untuk yang kesekian kalinya, saya menghadiri upacara adat ‘Megedong-gedongan”, yaitu suatu ritual untuk ibu yang hamil pertama kali, saat kehamilannya berusia tujuh bulan. Dari sekian sesi acaranya, ada satu sesi yang sangat menarik yaitu saat sang suami menusuk sebuah bungkusan dari daun talas.

Di dalam daun talas itu berisi air dan beberapa ekor ikan serta belut. Setelah ditusuk dengan tombak bambu, kalau yang keluar adalah belut maka jenis kelamin si jabang bayi adalah lelaki. Kalau yang keluar itu ikan, makan jenis kelaminnya adalah perempuan.

Sesaat sebelum upacara dimulai, saya sempat bertanya sama sang calon ibu (istri dari salah satu keponakan saya), apakah sudah melakukan USG. Jawabnya sudah, dan menurut hasil USG jenis kelamin sang calon bayi adalah lelaki. Saat itu saya berpikir, berarti, nanti ketika sesi menusuk bungkusan daun talas, yang keluar pasti belut. Itu keyakinan saya.

Benar saja, ketika sesi itu dilakukan, yang keluar adalah belut, berarti sama dengan hasil USG. Sekarang tinggal menunggu hari kelahiran saja, apakah yang lahir benar-benar bayi lelaki atau tidak. Tetap kuasa Tuhan yang menentukan. Walaupun selama ini, yang saya tahu, hasilnya selalu cocok.

Kebetulan? Bisa jadi, kebetulan yang selalu berulang. 🙂

NB: Artikel ini juga saya muat sebagai status di FB pada tanggal 18 Agustus 2013