Archive | December 2013

Bukan lagi ‘alah bisa karena biasa’

PaperSebelumnya tak pernah terbayang saya akan bisa menjilid makalah atau paper seperti ini. Semuanya berawal ketika anak saya sudah kuliah. Tak pernah terbayang juga bahwa perkuliahannya begitu ketat dengan tugas-tugas yang numpuk dalam waktu yang bersamaan. Bulan-bulan pertama kuliah dia seringkali nangis karena selalu kekurangan waktu untuk mengerjakan tugas-tugasnya. Sudah begadang sampai subuh tetap saja tidak beres. Belum lagi beberapa mata kuliah yang tugas-tugasnya harus ditulis tangan.

Karena kondisinya seperti itu sering kali makalah atau papernya baru selesai hampir tengah malam sehingga tidak mungkin bisa pergi ke tempat penjilidan. Sedangkan esok paginya harus sudah dikumpul. Saya mencari akal untuk mengatasi hal ini. Satu-satunya cara saya harus bisa melakukan penjilidan sehingga setiap saat bisa menjilid makalahnya kapan pun. Untuk itu mulailah saya mengira-ngira apa saja yang dibutuhkan.

Saya kemudian membeli semua kebutuhan untuk itu mulai dari staipler, lakban hitam, kertas sampul warna sesuai yang dibutuhkan, plastik transparan, cutter/gunting. Hasilnya? Seperti tampak dalam gambar. Walaupun tidak rapi-rapi amat, setidaknya lumayanlah, tidak mesti pusing kejar-kejaran dengan jam tutupnya tempat penjilidan. Sekarang jilid-menjilid tak jadi masalah lagi. Tidak peduli jam berapa pun dia selesai membuat tugasnya, si tukang jilid selalu siap sedia. Duapuluh empat jam. 😀

Moral of the story? Bukan lagi ‘alah bisa karena biasa, tapi… alah bisa karena kepepet.’ 😀

Advertisements

Jangan buru-buru memuji

Beberapa teman di FB meragukan PP saya dan menanyakan kesahihannya. Beberapa di antaranya anak-anak sepantaran anak saya. Salah satunya bertanya agak mendetail sehingga terjadilah percakapan berikut.

+ Bu, PP ini foto kapan? Seperti umur duapuluhan. “ (Walah, lebay kamu, Nak. Ngasih diskon ngga tanggung2).

– “Oh, ya, ini memang foto seperempat abad yang lalu.” (Becanda)

+ “Ah, Ibu becanda, kalau foto lama pasti kelihatan fotonya jadul.”

– “Iya iya, maaf, ini foto bulan Maret lalu.”

+ “Ibu kelihatan cantik dan muda. Susah dipercaya kalau Ibu sudah punya anak gadis.”

– “Eh, jangan percaya sama PP. Foto ini sengaja dicakep-cakepkan supaya kelihatan cakep dan dimuda-mudakan supaya kelihatan muda.”

+ “Emang bisa?”

– “Bisalah, sekarang kan zaman udah canggih. Jadi, jangan dulu melontarkan pujian bertubi-tubi.”

+ “Masa bisa sih?”

– “Iya, pokoknya jangan percaya sama PP saya sebelum melihat orangnya langsung. Atau minimal mendengar dari orang yang sudah ketemu saya. Jangan sampai setelah kamu melihat aslinya, trus ngedumel dan misuh-misuh: ‘Uh, fotonya aja kelihatan cantik dan muda, aslinya… amit-amit!’

+ “Emang pake aplikasi apa, Bu?”

– (Berpikir sejenak) “Di Android banyak tuh ada program untuk itu.” (Menirukan ucapan seorang teman ketika saya menanyakan pertanyaan yang sama padanya).

+ “Oh, gitu. Trus, Ibu pake aplikasi yang mana supaya kelihatan muda begini?”

Mampus saya! Saya tak tahu satu pun nama aplikasi-aplikasi tersebut. HP saya tak berisi aplikasi apa pun, bahkan FB pun tidak. Saya berusaha tetap stay cool.

– “Saya lupa nama aplikasinya, coba nanti saya inget-inget dulu. Btw, sudah dulu, ya, Nak. Saya mau lanjut kerja lagi.” (Saya ingin segera mengakhiri percakapan sebelum saya kelihatan makin bodoh. Selain itu, saya memang beneran mau melanjutkan kerja).

– “Iya, Bu, selamat bekerja.”

– “Makasih.”

*****

Baju Pinjaman

Kejadian ini sudah terjadi cukup lama. Ceritanya, sore itu saya ke warung sebelah rumah dengan niat untuk membeli kripik singkong (camilan favorit saya). Anak dari si pemilik warung ini membuka studio musik, jadi, warung ini sebenarnya lebih untuk anak-anak yang antri menunggu gilirannya menggunakan studio.
Begitu masuk ke warung itu, saya mendengar seorang anak berbisik pada temannya.

“Eh, ibunya Gayatri memakai baju anaknya!”

Jleb! Niatnya berbisik tapi suaranya terlalu keras untuk sebuah bisikan.
Saya langsung menoleh sumber suara itu. Terlihat sekelompok anak muda yang tampaknya sedang menunggu giliran untuk masuk studio. Saya memandang mereka dengan wajah datar, tanpa ekspresi sambil berkata dalam hati “berani-beraninya ngrasani orang tua yah!”
Seketika mereka terdiam begitu melihat mimik saya.

“Ci demen je ngomong, sing ngelah gae ci,” bisik salah seorang dari mereka sambil menyikut temennya yang bicara tadi.

“Cang be kisi-kisi, sanget munyin cang busan?” bisik anak itu.

“Sanget ajan, ci!”

Saya tak bicara sepatah kata pun, hanya menatap mereka dengan mimik wajah yang barangkali tampak ‘menyeramkan’ sampai-sampai mereka tak berkutik. Semua menunduk. Tanpa suara.
Iya, hari itu saya memang memakai T-Shirt anak saya. Baju kaosnya waktu SMP yang ada tulisan “Teater Panca.” Waktu SMP anak saya ikut ekstrakurikuler teater dan seperti pada umumnya, tiap-tiap ekstrakurikuler pasti punya kaos sendiri. Nah, berhubung baju itu nganggur dan masih bagus, udah gitu kainnya juga bagus, katun yang sejuk, nyaman di badan, yaa udah, saya pakai aja. Apalagi waktu itu sedang musim panas dan saya butuh kaos-kaos yang sejuk dan nyaman.

Rupanya beberapa di antara anak-anak tadi adalah alumni SMPN 5 yang mungkin ikut ekstra teater juga sehingga amat mengenali baju yang saya pakai. Masalahnya, kenapa mesti ngrasani orang di depan orangnya langsung? Ngga sopan banget kan? 😛

Untuk teman-temannya Gayatri yang kebetulan membaca ini, saya ‘peringatkan’ agar jangan kaget karena kami memang biasa saling tukar pakai baju dari T-Shirt sampai kebaya. So, kalau toh mau ngrasani, tunggulah sampai orangnya lenyap dari pandangan, OK? 😀