Archive | March 2010

“Angkihan Ben Nyilih”

“Ingat-ingat, badan adalah kendaraan titipan, jadilah supir yang bertanggungjawab, jadi saat kendaraan diminta, kita bisa menyerahkannya dengan tenang dan surat-surat lengkap”.

Kalimat ini saya kutip dari salah satu postingan adik bungsu saya di websitenya. Kalau diresapi betapa dalam maknanya dan sangat pas dengan ungkapan “angkihan ben nyilih” di atas.

“Angkihan ben nyilih”, mungkin kita sering kali mendengar ungkapan itu diucapkan oleh orang tua kita. Yang menyatakan, bahwa kehidupan ini hanya “pinjaman” dan setiap saat bisa diambil kembali.
Kemarin saya menghadiri upacara “nyiraman”, yaitu upacara memandikan jenazah salah seorang kerabat yang meninggal mendadak dalam usia yang relatif muda. Dapat dibayangkan, betapa kaget keluarganya karena selama ini tidak nampak ada gejala sakit yang serius. Begitu pula saat almarhum meninggalkan rumah untuk beraktivitas, masih sehat-sehat saja.
Saya sendiri juga tidak kalah kaget, ketika malam itu mendapat telepon yang mengabarkan kepergiannya. Saya bahkan bertanya, “Benarkah, serius??”
Salah satu rahasia Tuhan yang tidak terpecahkan adalah misteri waktu kematian kita. Manusia boleh bisa terbang ke bulan atau planet lainnya, tapi kita tidak pernah tahu kapan waktunya kita dipanggil Tuhan. Yang bisa kita lakukan hanyalah selalu berusaha berbuat baik kepada sesama, setidaknya berusaha untuk tidak menyakiti siapapun atau apapun dan mempersiapkan “bekal” sebanyak-banyaknya seandainya Tuhan tiba-tiba memanggil kita.

 

Advertisements

"Angkihan Ben Nyilih"

“Ingat-ingat, badan adalah kendaraan titipan, jadilah supir yang bertanggungjawab, jadi saat kendaraan diminta, kita bisa menyerahkannya dengan tenang dan surat-surat lengkap”.

Kalimat ini saya kutip dari salah satu postingan adik bungsu saya di websitenya. Kalau diresapi betapa dalam maknanya dan sangat pas dengan ungkapan “angkihan ben nyilih” di atas.

“Angkihan ben nyilih”, mungkin kita sering kali mendengar ungkapan itu diucapkan oleh orang tua kita. Yang menyatakan, bahwa kehidupan ini hanya “pinjaman” dan setiap saat bisa diambil kembali.

Kemarin saya menghadiri upacara “nyiraman”, yaitu upacara memandikan jenazah salah seorang kerabat yang meninggal mendadak dalam usia yang relatif muda. Dapat dibayangkan, betapa kaget keluarganya karena selama ini tidak nampak ada gejala sakit yang serius. Begitu pula saat almarhum meninggalkan rumah untuk beraktivitas, masih sehat-sehat saja.
Saya sendiri juga tidak kalah kaget, ketika malam itu mendapat telepon yang mengabarkan kepergiannya. Saya bahkan bertanya, “Benarkah, serius??”

 
Salah satu rahasia Tuhan yang tidak terpecahkan adalah misteri waktu kematian kita. Manusia boleh bisa terbang ke bulan atau planet lainnya, tapi kita tidak pernah tahu kapan waktunya kita dipanggil Tuhan. Yang bisa kita lakukan hanyalah selalu berusaha berbuat baik kepada sesama, setidaknya berusaha untuk tidak menyakiti siapa pun atau apa pun dan mempersiapkan “bekal” sebanyak-banyaknya seandainya Tuhan tiba-tiba memanggil kita.

Suatu Hari di Kantor Pajak

Seperti biasa, tiap bulan saya menyampaikan laporan pajak bulanan, sekalian menyampaikan laporan pajak punya adik saya. Memang tiada hari sepi di kantor pajak, tapi hari itu pengunjung membludak bahkan sampai meluap keluar ruangan. Setelah mengambil nomor antrian, saya berusaha mencari-cari kursi kosong. Nomor antrian saya 159B, sementara nomor terakhir yang sedang jalan adalah 55. Saya membayangkan harus menunggu 104 nomor lagi. Setelah duduk kira-kira 15 menit, seorang ibu yang kira-kira sebaya saya berbaik hati memberikan nomor antriannya kepada saya. Wah…lumayan, nomor 70B. Rupanya ibu itu sudah dapat nebeng sama orang lain yang nomornya lebih kecil, sehingga nomor antriannya dialihkan ke saya.

 

Kira-kira 5 menit kemudian, seorang ibu lain mendekati saya, hampir sebaya dengan kakak tertua saya.
Ibu X : “Dapat nomor berapa, Bu?”
Saya : “Nomor 70B” (saya menunjukkan kertas nomornya)
Ibu X : “Saya boleh nebeng ya? Saya nomor 199B, jauh sekali”
Saya : “Boleh, Bu, tapi jumlah laporan Ibu berapa? Saya cuman satu sih, kode B hanya boleh maksimal 5 laporan”
Ibu X : “Saya 5 laporan, Ibu cuman 1 ya, jadi cuman lebih 1 laporan aja, nggak apa kok kalau cuman lebih 1 saja.” (katanya dengan sangat meyakinkan)
Saya : “Bener ngga apa-apa, Bu?” (Saya agak ragu-ragu)
Ibu X : “Bener kok, saya sudah pernah mengalaminya.” (katanya dengan lebih meyakinkan lagi)

 

Akhirnya, saya pun setuju, dia meminta nomor dan laporan saya. Kemudian setelah nomor kami mendapat giliran, ibu itu ke depan menuju meja petugas. Saya menunggu di tempat duduk.
Beberapa menit kemudian ibu tersebut sudah selesai dengan urusannya dan menuju tempat duduk saya.
Ibu X : “Bu, laporan pajak Ibu dikembalikan, menurut petugas, laporan pajak PPh pasal 21 ini tidak usah dilaporkan”
“Saya : “Oh, ya? Sejak kapan berlaku aturannya? Bulan-bulan sebelumnya saya selalu melapor kok.”
Ibu X : “Mulai bulan ini”
Saya : “Ohh….” (Masih agak heran).
Kemudian ibu itu pamit setelah menyerahkan berkas laporan saya.

 

Saya juga langsung pulang, tapi setelah sampai di parkiran, saya berpikir lagi, apa bener kata ibu tadi bahwa saya tidak usah melaporkan laporan pajak PPh pasal 21??
Saya merasa ada yang aneh. Saya pun masuk lagi. Untuk meyakinkan diri, saya bertanya pada beberapa orang yang sedang antri, apa benar ada perubahan aturan seperti yang dikatakan oleh ibu tadi. Jawabnya? Ternyata tidak ada perubahan!

 

Kesimpulannya? Karena ternyata tidak boleh membawa laporan lebih dari 5 berkas untuk kode antrian B, maka ibu itu lebih memilih ‘mengorbankan’ saya yang telah memberinya nomor antrian. Saya pun kembali duduk manis menunggu antrian berikutnya, tersenyum sendiri dan tertawa dalam hati, menertawakan diri sendiri tentu saja, terbayang wajah tak berdosanya yang amat meyakinkan, hehehehe….

Ternyata berbuat baik tidak selalu berakhir baik 🙂 

Ternyata tidak ada tutorial online-nya

Ternyata, setelah ditunggu sekian lama tidak satupun mata kuliah yang saya ambil di semester ini, 2010.1, ada tutorial online-nya. Dengan kata lain, saya harus siap-siap belajar mengandalkan modul saja. Meskipun dalam nilai UAS nilai tutorial online tidak memberi pengaruh terlalu besar, saya tetap merasa terbantu dengan tuton ini, minimal bisa mengikuti latihan-latihannya.
Semester ini saya hanya mengambil 3 mata kuliah dengan jumlah SKS 12, yaitu Translation IV, Translation V dan Translation VII. Mata kuliah Translation mungkin tidak banyak teori yang harus dipelajari (menurut saya), tapi yang penting adalah harus banyak latihan atau praktek. Karena tidak ada tuton, maka saya harus rajin-rajin mencari bahan latihan.

Mengapa Ujian Nasional (UN) Begitu Menakutkan?

Hari ini, Senin 22 Maret 2010, Ujian Nasional untuk tingkat SMTA dimulai. Berbagai cerita bermunculan, dari berita-berita di berbagai media, secara umum menunjukkan betapa anak-anak itu, para siswa, begitu khawatirnya dengan pelaksanaan UN ini. Seperti yang saya baca di salah satu media online, ada beberapa siswa yang sakit dan bahkan sampai pingsan saat akan menghadapi UN. Seolah-olah mereka tidak yakin bisa mengerjakan soal-soal UN. UN betul-betul menjadi ’hantu’ yang sangat menakutkan bagi mereka. Kalau dibilang tidak siap, rasanya tidak juga. Karena hampir semua sekolah, jauh-jauh hari sudah mempersiapkan anak didiknya dengan menambah jam pelajaran khusus untuk membahas mata pelajaran yang akan diujikan dalam UN ini. Sekolah-sekolah juga mengadakan try out lebih banyak.
Di samping mendapat pelajaran tambahan di sekolah, anak-anak juga les di luar sekolah ikut bimbingan belajar yang kini makin menjamur. Jadi sebenarnya tidak ada alasan kalau dibilang mereka kurang belajar. Lalu apa masalah sebenarnya, sehingga para siswa begitu ’ngeri’ dengan UN? Saya juga tidak mengerti 🙂

Tutorial Online

Sampai malam ini, tutorial online dari perkuliahan D3 Penterjemah UT belum dimulai. Untuk semester 2010.1 tutorial yang seharusnya dimulai tanggal 14 Maret 2010 sesuai kalender akademik ternyata belum bisa dilaksanakan berhubung adanya masalah teknis.
Yah…semoga masalah teknis bisa segera teratasi dan tutorial bisa dimulai.